FUNGSI DAN MAKNA BANTEN BYAKALA ATAU BYAKAONAN BESERTA MAKNA BAGIAN-BAGIANNYA

Banten Byakala atau Byakaonan atau sering juga disebut Bayekala atau Bayekaonan mungkin sudah tidak asing lagi dikalangan umat Hindu, khususnya umat Hindu di Bali. Banten Byakala atau Byakaonan merupakan Banten yang difungsikan sebagai pangresikan (pembersihan), dimana Banten Byakala/Byakaonan ini tergolong dalam bentuk pembersihan secara lahiriah.

Banten Byakala dan Byakaonan pada prinsipnya memiliki fungsi sama yaitu sebagai simbol pembersihan, akan tetapi peruntukannya berbeda. Dimana Banten Byakala diperuntukkan untuk manusia sedangkan Banten Byakaonan untuk Dewata atau Palinggih dan tempat suci.

Perbedaan antara Banten Byakala dengan Banten Byakaonan terletak pada eteh-eteh (sarana) pabersihannya, dimana pada Banten Byakala menggunakan isuh-isuh sedangkan pada Banten Byakaonan menggunakan payasan pabersihan.

KESADARAN YADNYA DAN KONSEP YADNYA

Ketika mendengar kata Yadnya, apa yang terlintas dalam benak anda? Apakah “Gede Aturan Maka Gede Pinunas?” atau Besar yang kita haturkan maka besar pula yang akan kita dapat?

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai Kesadaran Yadnya, ada hal penting yang perlu diketahui ketika kita hendak melaksanakan Upacara Yadnya, yaitu mengenai konsep Yadnya itu sendiri adalah sebagai berikut:

“Agung ikang Upakara/Banten alah dening Puja Mantra” artinya: Seberapa besarpun Upakara/Banten yang dibuat tidak akan sempurna tanpa Puja Mantra, dalam hal ini Puja Mantra berfungsi sebagai pelengkap, sebab dalam membuat Upakara/Banten bisa saja ada kekurangan atau kelebihan dalam prosesnya pembuatannya, oleh karena itu dalam pelaksanaan Upacara Yadnya diperlukan Pemangku untuk nganteb atau Ida Sulinggih sebagai pemuput Upacara, terutama untuk upacara menengah keatas dimana menggunakan cukup banyak Upakara/Banten.

VIDEO TRADISI SAKRAL NGEREBONG MANGKU DI PURA PETILAN DESA PAKRAMAN KESIMAN (2 MEI 2021)

 

VIDEO TRADISI NGEREBONG DESA ADAT PAKRAMAN KESIMAN (2 MEI 2021)

 

MAKNA PENAMPAHAN GALUNGAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN TUGU KARANG ATAU SEDAHAN KARANG

Penampahan Galungan tentunya sangat erat kaitannya dengan Hari Raya Galungan, yaitu tepat sehari sebelum galungan pada hari selasa atau anggara wuku dungulan.

Apa sebenarnya makna dari Penampahan Galungan?

Penampahan Galungan merupakan hari turunnya Sang Kala Tiga, yaitu: Kala Galungan, Kala Dungulan, dan Kala Amangkurat yang kemudian berstana di Penunggun Karang/Sedahan Karang.

Kenapa di Penunggun Karang/Sedahan Karang?

Penunggun Karang/Sedahan Karang merupakan tempat berstananya Sang Kala Raksa, artinya segala yang bersifat Bhuta dan Kala berstana di Pelinggih Kala Raksa yang sering disebut Penunggun Karang atau Sedahan Karang.

MAKNA SUGIHAN JAWA DAN SUGIHAN BALI

Sugihan dikenal sebagai Upacara di Bali yang masih ada kaitannya dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan, ada dua Sugihan yaitu Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Ketika mendengar kata Sugihan Jawa dan Sugihan Bali apa yang terlintas di benak anda?

Masyarakat Hindu Bali sudah tidak asing dengan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, namun sepertinya masih ada beberapa yang belum paham akan makna sebenarnya dari kedua Sugihan tersebut. 

Sugihan Jawa atau sering juga dikenal dengan Sugihan Jaba adalah sebuah kegiatan rangkaiang upacara dalam rangka menyucikan Bhuana Agung (makrokosmos) atau Alam Semesta. Sugihan Jawa ini jatuh pada hari Kamis Wage Wuku Sungsang.

Kata Sugihan Jawa berasal dari urat kata Sugi, yang artinya membersihkan, dan Jawa berasal dari kata Jawi yang dalam Bahasa Jawa kuno memiliki arti luar, begitu juga Jaba dalam Bahasa Bali yang memiliki arti sama yaitu luar. 

VIDEO CARA MUDAH NGASTORI ATAU NGADEGIN PUSPA ATAU SEKAH